Model
Siantar

Soroti Kasus Intimidasi Ibu PKL, PERMAHI Desak Polisi Tetapkan Tersangka

Soroti Kasus Intimidasi Ibu PKL, PERMAHI Desak Polisi Tetapkan Tersangka
Foto: James Gultom (kiri) dan Ratna Uli Manurung di lapak dagangan sayur mayur, Lorong II Jalan Patuan Nagari, Parluasan, Siantar Utara, Sabtu (18/7/2026).

SIANTAR – Polisi didesak segera menetapkan seorang pria berinisial DM sebagai tersangka kasus intimidasi terhadap ibu pedagang kaki lima (PKL) bernama Ratna Uli Manurung.

Kasus ini menuai sorotan dari Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) lantaran penanganan laporan korban terkesan lambat ditangani kepolisian.

“Kami juga menilai tidak ada kepastian hukum yang diperoleh oleh korban atas laporan yang dibuat,” kata Ketua PERMAHI Siantar-Simalungun James Gultom, Sabtu (18/7/2026).

Ratna melaporkan kasus dugaan penganiayaan yang dialaminya tertuang dalam LP/B/35/IV/2026 di Polsek Siantar Utara, pada tanggal 29 April 2026. 

Selama bergulirnya penanganan laporan, penyidik telah melakukan pemeriksaan para saksi, terlapor MD serta pelapor Ratna Uli Manurung.

Laporan hasil pemeriksaan itu turut dituangkan dalam SP2HP yang dikeluarkan pada tanggal 10 Juli 2026.

Kendati demikian, kata James, penanganan perkara ini belum mengarah kepada penetapan tersangka.

Sementara itu korban masih terus mendapat intimidasi dari terduga pelaku yang membuat kondisi mentalnya terganggu.

“Kami mendesak Kapolres Pematangsiantar segera menetapkan pelaku sebagai tersangka. Korban ini seorang ibu yang mengalami trauma psikis akibat perbuatan pelaku,” ujar James.

“Yang kami sayangkan pula terduga pelaku ini seorang laki laki yang berbuat kasar terhadap kaum perempuan terutama seorang ibu,” sambung James.

Kasus ini bermula dari persaingan usaha dagang antara pelapor dan terlapor. Keduanya berjualan sayur mayur di Lorong II Jalan Patuan Nagari, Pasar Dwikora.

Jarak lapak dagang mereka satu sama lain bersebelahan, dengan jenis dagangan yang sama pula, yaitu cabai, tomat, bawang dan sayuran.

Menurut Ratna, terduga pelaku merasa tersaingi karena dagangannya lebih laris dibanding milik terduga pelaku. 

Sejak itu, ibu 3 orang anak ini pun mengalami intimidasi hingga tindakan fisik. 

Akibat dari persoalan itu pula, ia juga merasa hubungan sesama pedagang di sekelilingnya kurang harmonis. 

“Saya sebetulnya sangat takut sekali jualan di sini. Tapi demi menyambung hidup dan biaya kuliah anak anak, saya harus tetap berjualan,” ucap Ratna.

Masih kata Ratna, intimidasi verbal yang sering ia terima membuat ia tidak nyaman dan butuh perlindungan. 

Ia juga khawatir suatu waktu terlapor akan menggusur lapak jualannya, sehingga ia  kehilangan mata pencaharian satu satunya.

“Saya takut sekali. Nggak nyaman karena selalu mendapatkan ancaman. Badanku sempat kurus hanya memikirkan tekanan itu terus terusan,” ucapnya.

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Coming Soon

Rpxxx.xxx Beli Disini

Coming Soon

Rpxxx.xxx Beli Disini

Coming Soon

Rpxxx.xxx Beli Disini

Coming Soon

Rpxxx.xxx Beli Disini