Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Selain sebaran abu vulkanik, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga memiliki potensi bahaya lain yang perlu diwaspadai karena lokasinya berada di tengah laut, salah satunya tsunami akibat aktivitas vulkanik. Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut memindahkan volume air secara tiba-tiba dan memicu tsunami di sekitar Selat Sunda.
Sejumlah indikator dapat digunakan untuk memantau potensi ketidakstabilan tubuh gunung yang berisiko memicu tsunami. Indikator tersebut meliputi peningkatan aktivitas kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung yang dipantau menggunakan tiltmeter dan GPS, kondisi serta kestabilan lereng, hingga perubahan pola erupsi. Sementara itu, tide gauge dan sensor tsunami digunakan untuk mendeteksi perubahan muka air laut yang mungkin terjadi akibat runtuhan tubuh gunung.
“Mengingat Gunung Anak Krakatau memiliki riwayat bencana penyerta, masyarakat perlu mencermati perkembangan aktivitasnya tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi dapat diperoleh melalui kanal PVMBG, BMKG, BNPB atau BPBD, serta media yang kredibel. Dengan mengandalkan sumber tepercaya, masyarakat dapat tetap tenang sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bahaya,” jelas Iktri.
Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang teknologi dan energi, Universitas Pertamina terus berkomitmen membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memahami dinamika bumi, menganalisis berbagai gejala kebumian, serta menyampaikan informasi ilmiah kepada masyarakat.
“Melalui mata kuliah seperti Seismologi, Geodinamika, serta Pengolahan dan Analisis Sinyal Geofisika, mahasiswa mempelajari proses kebumian dan mengolah data untuk memahami berbagai gejala alam. Pembelajaran tersebut dilengkapi dengan mata kuliah Penglibatan Publik untuk Proyek Sains dan Teknologi agar mahasiswa mampu menyampaikan hasil kajian ilmiah secara tepat dan mudah dipahami masyarakat. Kompetensi ini diperlukan untuk mendukung literasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujar Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra.
Konten ini adalah iklan dari platform Recreativ, DAILYPOS.ID tidak terkait dengan materi konten ini.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.