Get DailyPOS App Play Store
Get DailyPOS App Coming Soon!
Advertisement

Biaya Meroket Tajam, Pakar Petrokimia UPER Soroti Tantangan Berat Industri Plastik

R Penulis : Redaksi Dailypos Redaksi   |   R Editor : Redaksi Redaksi
20 April 2026 | 14:59 WIB
Biaya Meroket Tajam, Pakar Petrokimia UPER Soroti Tantangan Berat Industri Plastik
Wegik (kelima dari kiri) bersama tim Universitas Pertamina dalam kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence beberapa pekan lalu. (Foto: Dok. Humas Uper)

Jakarta, DAILYPOS - Lonjakan harga minyak mentah global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu efek domino pada industri hilir, salah satunya kenaikan harga plastik sebagai produk turunan minyak bumi. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menilai peningkatan harga plastik mencapai 40 hingga 60 persen per April 2026. Hal ini dipengaruhi oleh krisis geopolitik yang mengganggu jalur distribusi minyak bumi sebagai bahan baku petrokimia, khususnya nafta.

Advertisement

Pakar Petrokimia dari Universitas Pertamina (UPER), Wegik Dwi Prasetyo, S.T., M.T., menegaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah berdampak langsung pada naiknya harga nafta. Kondisi ini secara otomatis memengaruhi harga olefin produk turunan nafta yang menjadi bahan baku utama penyusun plastik sehingga memicu pembengkakan biaya produksi yang signifikan pada industri polimer dalam negeri.

Advertisement

“Kilang minyak di Indonesia saat ini masih berfokus pada pemenuhan bahan bakar transportasi dan kapasitas produksi untuk bahan baku plastik domestik masih terbatas. Karena itu, industri nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku petrokimia dari kawasan Timur Tengah yang memiliki kapasitas produksi nafta dan olefin jauh lebih masif,” ujar Wegik.

Advertisement
Wegik mewakili Universitas Pertamina menyerahkan tanda apresiasi kepada pembicara pada kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence. (Foto: Dok. Humas Uper)

Industri plastik sangat bergantung pada minyak mentah ringan (light crude oil), jenis minyak yang paling efisien untuk diolah menjadi bahan baku plastik. Saat ini, Arab Saudi merupakan pemasok utama dunia dengan produksi mencapai 9,51 juta barel per hari. (Reuters, 2025). Dominasi ini membuat harga plastik global termasuk di Indonesia sangat bergantung pada stabilitas pasokan dari mereka

Advertisement
Tag :
Advertisement
Advertisement

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Konten ini adalah iklan dari platform Recreativ, DAILYPOS.ID tidak terkait dengan materi konten ini.

Advertisement